Minggu, 23 Desember 2012

PBL Blok 2 Modul 1


Tinjauan Pustaka

Penerapan Berpikir Kritis dan Manusia Sebagai Makhluk Belajar Sepanjang Masa
Jennifer
A2 / 10.2012.023
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Tutor : dr. Agus Rijadi

Abstrak: Manusia adalah makhluk Tuhan yang unik dimana manusia itu selalu berkembang dengan cara mempelajari segala sesuatunya. Dimana sejak kita dilahirkan sampai kita berusia lanjut pun kita akan terus belajar. Manusia itu juga merupakan makhluk sosial dimana ia selalu membutuhkan bantuan makhluk lain dan ia juga selalu dipengaruhi oleh lingkungannya baik itu pandangan religious worldview dan etik. Berpikir kritis dan pandangan religious worldview yang baik dan benar merupakan salah satu cara menghadapi pandangan-pandangan masyarakat yang berbeda tersebut. Tinjauan pustaka ini merupakan studi literatur yang membahas kesalahpahaman pola pikir mengenai transplantasi yang terjadi dalam masyarakat dengan lingkungannya dan juga cara penanggulangannya apabila sudah terjadi pandangan salah terhadap transplantasi di masyarakat yang bersangkutan. Penanggulangan yang dibahas meliputi tindakan belajar dan berpikir kritis dengan baik dan benar dalam menghadapi pandangan-pandangan dari lingkungan yang terkadang dianggap buruk namun harus tetap kita lakukan.

Kata kunci: berpikir kritis, makhluk sosial, makhluk berpikir, transplantasi, religious worldview

Pendahuluan
            Manusia adalah makhluk Tuhan yang unik dimana manusia itu selalu berkembang dengan cara mempelajari segala sesuatunya dalam kehidupannya sehari-hari, sebagai contohnya kita sering mengalami kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa dimana kita harus selalu belajar oleh karena itu belajar merupakan suatu hal yang berlaku mutlak dalam hidup kita. Dimana sejak kita dilahirkan sampai kita berusia lanjut pun kita akan terus belajar. Manusia juga merupakan makhluk sosial dimana ia selalu membutuhkan bantuan makhluk lain dan ia juga selalu dipengaruhi oleh lingkungannya baik itu pandangan religious terutama religious worldview, etik, dllnya. Pandangan-pandangan hidup modern sangat dibutuhkan untuk menggantikan pemikiran-pemikiran yang lama dan tidak dibenarkan lagi di dunia modern ini. Selain pandangan hidup modern, pandangan hidup religius juga penting dalam menjadikan kehidupan yang harmonis. Pola pikir juga menjadi salah satu faktor yang penting dalam menanggapi pandangan-pandangan masyarakat dalam mengambil keputusan. Makalah ini ditulis dengan tujuan agar setiap individu yang membacanya dapat terbuka pikirannya akan banyaknya hal yang dapat memicu pandangan dan cara berpikir kritis dalam suatu masyarakat. Sehingga kemudian pembaca dapat lebih mengerti akan tindakan yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat. Dalam makalah ini akan dibahas tentang manusia yang belajar sepanjang masa, manusia sebagai makhluk social, berpikir kritis dalam berbagai sudut pandang serta pandangan transplantasi itu sendiri dan dari segi religious dan etik. Diharapkan pembaca dapat mengerti tentang lingkup manusia yang belajar sepanjang masa yang akan dibahas , bagaimana cara-cara berpikir kritis, pandangan-pandangan religious dan etik beserta pengertian-pengertiannya.

Isi
Berpikir Kritis
            Jika kita menggunakan istilah “berpikir kritis” pada semua jenis berpikir, kita tidak memerlukan istilah “kritis”, dan kita juga akan kehilangan arti spesifik dari istilah “kritis”. Kata “kritis” muncul dari bahasa Yunani yang bearti “hakim” dan diserap oleh bahasa Latin. Kamus (Oxford) menerjemahkan sebagai “sensor” atau pencarian kesalahan. Agar suatu masalah dapat diselesaikan dengan baik, masyarakat membutuhkan suatu pemikiran yang membantu mereka menyelesaikan masalah itu. Caranya adalah dengan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah suatu sensor atau pencarian kesalahan. Seringkali “kritis” dimaksudkan sebagai penilaian, entah baik atau buruk. Namun, hal ini memperlemah nilai utama berpikir kritis .1
            Tujuan awal berpikir kritis adalah menyingkap kebenaran dengan menyerang dan menyingkirkan semua yang salah – supaya kebenaran akan terlihat. Hal ini penting untuk mencegah penggunaan bahasa, konsep, dan argumentasi salah yang sembarangan. Akan tetapi, berpikir kritis semata-mata tidak memiliki kekuatan yang generatif maupun konstruktif.1
            Pengertian berpikir kritis menurut beberapa ahli :
·         Menurut Alfaro-LeFevre
Berpikir kritis akan membantu professional dalam memenuhi kebutuhan klien. Berpikir kritis adalah berpikir dengan tujuan dan mengarah-sasaran yang membantu individu membuat penilaian berdasarkan data bukan perkiraan.2
·         Menurut Paul
Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat. Menjadi pemikir kritis adalah sebuah denominator umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin dan mandiri. Pengetahuan didapat, dikaji, dan diatur melalui berpikir. Keterampilan kognitif yang digunakan dalam berpikir kualitas-tinggi, memerlukan disiplin intelektual, evaluasi diri, berpikir ulang, oposisi, tantangan, dan dukungan.2
·         Menurut Chafee
Berpikir kritis mentransformasikan cara individu memandang dirinya sendiri, memahami dunia, dan membuat keputusan.2
·         Menurut buku psikologi
Berpikir kritis adalah kemampuan dan kesediaan untuk membuat penilaian terhadap sejumlah pernyataan dan membuat keputusan objektif berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sehat dan fakta-fakta yang mendukung, bukan berdasarkan pada emosi dan anekdot.3
Penilaian yang keras dan pertanyaan destruktif yang disampaikan hanya untuk mematahkan keyakinan merupakan hambatan-hambatan bagi pemikiran kritis. Proses berpikir kritis mengharuskan keterbukaan pikiran, kerendahan hati, dan kesabaran. Kualitas-kualitas tersebut membantu seseorang mencapai pemahaman yang mendalam. Karena ingin sekali melihat makna di balik informasi dan kejadian, pemikir kritis selalu berpikiran terbuka saat mereka mencari keyakinan yang ditimbang baik-baik berdasarkan bukti logis dan logika yang benar. Pencarian mereka akan kebenaran mengharuskan mereka berhati-hati dalam menarik kesimpulan, cepat mengakui kebodohan, rindu mendapatkan informasi baru, sabar dalam menyelidiki bukti, toleran terhadap sudut pandang baru, dan mau mengikuti kelebihan sudut pandang orang lain dibandingkan dengan sudut pandang mereka sendiri. Membuat penilaian yang terlalu cepat dan keras membuat berpikir kritis sulit dilakukan.4

Manusia Makhluk Berpikir
Manusia adalah makhluk berpikir dan merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk Tuhan lainnya. Kapasitas berpikir yang dimilikinya menjadikan manusia menempati kedudukan tertinggi di antara makhluk Tuhan yang lain. Kemampuan ini pula yang mendorong manusia menuju ke kondisi yang lebih baik. Manusia diciptakan Tuhan dengan ciri khusus yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, yaitu daya berpikir.5
Potensi kemurnian (keluhuran) berpikir manusialah yang sangat menentukan citra keagungannya sebagai makhluk berpikir (Homo sapien). Kemampuan tersebut dilihat sebagai hal esensial, yang membedakan manusia dari binatang. Salah satu ciri kekhususan yang membedakan manusia dengan binatang justru terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Pandangan ini menunjukkan pula bahwa hakikat manusia yang disebut sebagai Homo faber, dapat membuktikan diri sebagai potensi kultural yang mampu membuat alat atau sarana untuk mencapai tujuannya. Kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh adanya daya pengetahuannya yang khas manusiawi. Pengembangan epistemologi  memerlukan pula alat atau metode sebagai sarana berpikir (seperti logika, bahasa, dan lainnya) untuk mendapatkan kebenaran dan kepastian yang lebih memadai. Manusia dalam hal ini bukan saja berpikir, tetapi sekaligus dapat mengambil jarak terhadap pikirannya, sehingga ia dapat mengontrol, merenungkan, mengendalikan, serta mengarahkan pikirannya secara bertanggung jawab. Dengan ini menjadi jelas bahwa pengembangan epistemology merupakan salah satu “prestasi” manusia yang sekaligus mengemban citra (nilai-nilai) keagungannya.6
            Dengan berpikir, manusia akan menghasilkan pengetahuan yang juga disebut sebagai logika. Manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan lima cara yaitu :
1.      Revelasi adalah cara memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi dengan Ilahi seperti wahyu dan agama. 6
2.      Otoritas adalah tahu berdasarkan informasi dari yang berkuasa seperti pengumuman oleh pemerintah.6
3.      Intuisi adalah mencari tahu secara yang di luar rasio-personal. 6
4.      Common sense adalah tahu dari ingatan akan faktor yang pernah dialami masa lalu seperti melalui pengalaman. 6
5.      Sains adalah mencari tahu secara rasional, mempertimbangkan kemungkinan dan bersifat tidak mutlak. Hal ini dicari dengan menggunakan penelitian dan penalaran rasional. 6

Pandangan Transplantasi Organ
Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan fungsi organ tubuh yang berat. Transplantasi adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan upaya terbaik untuk menolong pasien dengan kegagalan organnya karena hasilnya lebih memuaskan dibandingkan dengan terapi konservatif. Walaupun transplantasi organ dan atau jaringan itu telah lama dikenal dan hingga dewasa ini terus berkembang dalam dunia kedokteran, namun tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja karena masih harus dipertimbangkan dari segi nonmedik, yaitu dari segi agama, hukum, budaya, etika, dan moral.7
Oleh karena itu seorang dokter dalam menjalankan tugasnya dituntut pula untuk tetap berpegang teguh pada Kode Etika Kedokteran (KODEKI), yang bertujuan untuk keharmonisan hubungan dokter dengan orang sakit dan untuk ketentraman dan ketertiban masyarakat. Seorang dokter harus senantiasa  mengutamakan keselamatan orang sakit, melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi dan tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi. Namun, dalam zaman dengan unsut materialisme, hedonisme, dan konsumerisme menonjol sekarang ini, ada saja oknum dokter yang tergoda untuk melanggar etik profesinya yang luhur, bahkan melakukan malpraktik pidana.7

Manusia Sebagai Makhluk Sosial (Homo Socius)
            Sejak lahir, manusia tumbuh dan berkembang memerlukan bantuan orang lain. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk zonpoliticon. Artinya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari orang lain dan selalu berinteraksi dengan mereka. Apalagi ketika sakit, manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain. Sifat atau ciri manusia sebagai makhluk sosial akan terbentuk selama manusia bergaul dengan manusia lain. Manusia akan belajar dari lingkungan tentang norma, ajaran, peraturan, kebiasaan, tingkah laku yang etis maupun tidak etis, dan atau ragam budaya manusia. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kepentingan dengan orang lain, mengabdi kepada kepentingan social dan tidak dapat lepas dari lingkungannya, terutama lingkungan sosial. Faktor lingkungan sosial dapat berpengaruh terhadap derajat kesehatan individu maupun masyarakat. Pada lingkungan sosial yang rawan tindak kekerasan berisiko terjadi kasus trauma. Begitu juga pada lingkungan yang kumuh, berbagai penyakit dapat menyerang penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Selain itu, mobilitas penduduk yang tinggi menyebabkan penularan penyakit berlangsung dengan cepat. Dari penjelasan di atas jelas terlihat bahwa kondisi sosial turut berpengaruh terhadap kesehatan.8

Dilihat dari keempat aspek di atas yaitu berpikir kritis, pandangan transplantasi organ, manusia sebagai makhluk berpikir dan makhluk sosial bila dihubungkan dengan kasus Joe, Joe harus menerapakan berpikir kritis dimana Joe telah memutuskan untuk melakukan transplantasi dengan resiko harga yang mahal. Disamping harga yang mahal ini Joe pun harus menghadapi pandangan religious dan etik dari masyarakat terhadap transplantasi yang akan ia lakukan, karena kita sebagai makhluk sosial harus memperhatikan lingkungan kita, karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku diri kita sendiri, kembali ia dihadapkan bahwa berpikir kritis harus benar-benar ia terapkan karena seperti yang kita ketahui berpikir kritis adalah cara berpikir dimana semua masalah dapat diselesaikan dengan meminimalisasikan dampak yang mungkin terjadi, berpikir kritis ini masuk ke dalam aspek manusia sebagai makhluk yang berpikir karena manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna sehingga manusia dapat berpikir (Homo sapien) dan dari cara berpikir inilah diperoleh pengetahuan untuk mencapai tujuan dimana manusia disebut juga sebagai Homo faber.

Religious Worldview
Dalam kondisi masyarakat yang bermasalah, mengenal religious worldview sangatlah penting. Tujuan dari religious worldview adalah membentuk orientasi hidup, membangun kemandirian, dan membangun komunitas yang sehat. Dengan itu, pandangan masyarakat tentang suatu hal akan diubah.
            Perilaku manusia merupakan usaha untuk beradaptasi dengan lingkungan. Manusia berinteraksi dengan lingkungannya karena dua alasan: ingin menguasai lingkungan dan menjaga kelangsungan hidupnya.Energi untuk berperilaku timbul apabila manusia mengalami ketegangan dalam rangka memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan bertahanan hidupnya. Hal ini tampak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kebutuhan secara otomatis memberikan arah-tujuan utuk berperilaku.9
Di samping itu, terdapat teori lain yang menjelaskan bahwa tujuanlah yang menentukan arah perilaku. Teori yang berorientasi tujuan ini berpandangan bahwa tujuan menciptakan ketegangan, dan individu bergerak ke arah tujuan untuk mengurangi ketegangan. Jadi, arah dan energi perilaku merupakan hasil dari adanya tujuan.Tujuan-tujuan itu dapat berasal dari aspek biologis, aspek belajar (pengalaman dari lingkungan sosial), dan aspek pikir (thinking) yang kita milki. Tujuan yang paling memotivasi berasal dari dari gabungan tiga aspek tersebut.9
            Teori-teori diatas secara khusus menyoroti pentingnya tujuan dalam menggerakkan perilaku. Hal ini mengingatkan bahwa tujuan dapat diciptakan, sehingga akan sangat bermanfaat untuk menjelaskan bagaimana agar kita dapat terus memiliki motivasi dalam hidup.Tujuan dapat berkembang dari adanya kebutuhan. Namun, dalam rangka menguasai lingkungan, manusia dapat mengembangkan tujuan-tujuan yang lebih canggih (kompleks dan bersifat menyongsong masa depan) dapat lebih sejahtera secara fisik maupun psikologis.9
            Tanpa adanya kebutuhan yang berkembang menjadi tujuan atau tanpa adanya tujuan yang dikembangkan dalam hidup, orang tersebut tidak akan memiliki energi yang mendorongnya untuk bertindak atau kehilangan motivasi hidup.9
Bila tanpa tujuan yang jelas, orang akan mencari suatu tujuan tertentu yang bisa merugikan banyak pihak. Perlu adanya tujuan hidup yang jelas bagi seseorang. Dalam religious worldview, perlu bagi orang untuk mandiri dalam berpikir. Kemandirian itu bertujuan untuk membuat seseorang menjadi kokoh dalam kehidupan dan semakin bisa menghadapi kenyataan hidup.
            Agar kehidupan seseorang menjadi kokoh, yang diperlukan adalah iman. Iman itu sendiri ada dua jenis yaitu iman yang asal jadi dan iman yang melalui proses. Iman yang melalui proses adalah iman yang akan menjadi kuat dan kokoh. Digambarkan dalam Lukas 6:48 seperti halnya seseorang yang membangun rumah agar tetap kokoh, manakala ada badai mengancam. Oleh karena itu harus melalui proses dengan menggali dalam-dalam kemudian kita meletakkan fondasi batu dan rumah yang dibangun itu bisa berdisi di atas fondasi batu itu.Orang-orang akan mudah goyah dan akan menjadi runtuh apabila gelombang pencobaan yang mengancam, karena iman yang dibentuknya adalah iman asal jadi dan bukan iman yang melalui suatu proses. Iman yang dibentuk melalui proses adalah iman yang selalu tekun dalam pengajaran.10
            Teguh Karya seorang sutradara yang cukup beken dan dikenal dalam masyarakat perfilman Indonesia. Ia sering mendapatkan penghargaan karena filmnya baik dan bermutu, walaupun secara kuantitas dia hanya menghasilkan satu film dalam setahun. Tetapi karya yang dihasilkan itu dilakukan melalui proses yang matang dan penuh ketekunan dengan istilah lain bukan film asal jadi.10
Salah satu cara untuk meghadapi kenyataan hidup adalah menerima kenyataan hidup. Jika kita menerima fakta-fakta hidup, maka akan lauh lebih mudah untuk menentukan pola solusi yang paling tepat dan cepat untuk menuntaskan frustasi. Menerima kenyataan hidup bukan berarti menyerah dan pasrah pada “nasib”, melainkan menyadari kekuatan dan kelemahan dan membuka diri untuk menerima perubahan. Sikap menerima kenyataan hidup akan membuka peluang bagi kita untuk memperbaiki diri sehingga menjauhkan kita dari kemungkinan jatuh ke dalam frustasi.11
            Selanjutnya, dalam tahap religious worldview, perlu bagi kita membangun komunitas sehat. Hal yang diperhatikan pada komunitas sehat adalah pandangan hidup masyarakat mencakup apa dampak dari masyarakat kapitalis, apa pandangan umum masyarakat pada umumnya beserta dampaknya, dan bagaimana pandangan hidup sebagai umat dan dampaknya.
            Kehidupan politik modern diwarnai oleh dominasi kapitalisme seringkali dicap sebagai biang keladi dalam segenap ketidakadilan yang terjadi di dunia. Tetapi fakta membuktikan bahwa kapitalisme seakan-akan merupakan suatu takdir yang tidak bisa ditolak dan terbukti sangat relevan dalam kehidupan manusia.12
            Banyak pemikir yang mengajukan berbagai gagasan mereka untuk melakukan pembenahan dalam kehidupan sosial umat manusia. Nilai-nilai kental mewarnai pandangan-pandangan mereka. Tetapi fakta menunjukkan bahwa semua bentuk isme sulit dipertahankan di dalam kehidupan umat manusia. Kapitalisme tampaknya menjadi tulang punggung utama dalam kehidupan modern.12
            Ciri-ciri kapitalisme dirasakan oleh semua atau sekurang-kurangnya sebagian besar orang sebagai suatu ‘hukum alam’ yang mau tak mau harus diterapkan di dalam kehidupan umat manusia. Bahkan agama-agama secara tersirat atau tersurat mengungkapkan hukum alam ini. Semua agama berbicara tentang hak milik yang tidak boleh diganggu gugat oleh pihak lain. Ciri-ciri kapitalisme seperti persaingan dan pemberian hak lebih bagi orang-orang yang memiliki ‘kemampuan lebih baik’ pun tak pelak lagi menjadi sesuatu yang taken for granted di dalam kehidupan umat manusia secara umum.12
            Sebagai umat Allah, manusia harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakan perbuatan yang tidak baik. Jadi untuk mengukur perbuatan baik-buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum agama atau hukum Tuhan,13

Kaitan dengan kasus yang diberikan dengan pandangan religious worldview ini adalah adanya pandangan religious dan etik dalam proses transplantasi lobus paru-paru yang akan dilakukan oleh Joe. Sehingga diperlukan pandangan religious yang tepat dan benar sehingga pandangan masyarakat tentang suatu hal dapat berubah. Dikatakan di atas bahwa tujuanlah yang menentukan arah perilaku sehingga tujuan Joe dan masyarakat yang berbeda menyebabkan ketegangan sehingga harus dapat diluruskan dengan menerapkan sikap empati dan simpati. Seseorang dalam pandangan religious ini harus menjadi pribadi yang mandiri, dimana pribadi yang mandiri ini dapat menjadikan seseorang menjadi lebih kokoh dalam menghadapi kenyataan hidup yang dalam kasus ini adalah pandangan-pandangan masyarakat sekitanya.

Penutup
Seorang manusia yang disebut makhluk sosial ini tidak dapat lepas hidupnya dari pengaruh lingkungan. Semua perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya baik alam maupun manusia sekitarnya. Dalam pengaruh-pengaruh ini manusia sebagai makhluk berpikir akan mencoba untuk menganalisa pandangan-pandangan dalam masyarakat sehingga ia akan mempelajari dan mencoba untuk berpikir kritis ke depan untuk meminimalisasikan dampak ke depannya dalam hidup mereka. Joe dalam harus menerapkan prinsip berpikir kritis karena ia dihadapkan dengan transplantasi dengan resiko harga yang mahal namun pandangan religious dan etik dalam masyarakat membuat ia menjadi bimbang karena segala sesuatu harus selalu dipikirkan untuk mengetahui apa keuntungan dan kerugian dari tindakan tersebut. Dimana dari pemikiran tersebut pada akhirnya akan melahirkan sebuah keputusan yang akan kita laksanakan.

Daftar Pustaka
  1. Bono E. . Revolusi berpikir [internet].Cetakan kedua. Bandung: Penerbit Kaifa; 2007.h.204. [Diakses 30 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9791284016
2.      Wong DL, Eaton MH, Wilson D, dkk. Buku ajar keperawatan pediatric [internet]. Edisi keenam. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.20. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9794487813
3.      Wade C, Tavris C. Psikologi. Edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga. 2007.h.7. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9790158491
4.      Johnson EB. Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan belajar mengajar mengasyikkan dan bermakna [internet]. Bandung: Penerbit MLC; 2007.h.186. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9793611510
5.      Drajat A. Suhrawardi : Kritik falsafah peripatetic [internet]. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Askara Yogyakarta; 2005.h.1. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9798451198
6.      Watloly A. Tanggung jawab pengetahuan [internet]. Yogyakarta: Kanisius; 2002.h.185. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9796729105
7.      Hanafiah J, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan [internet]. Edisi keempat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=9794489557
8.      Asmadi. Konsep dasar keperawatan [internet]. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.h.15-6. [Diakses 31 Oktober 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?isbn=979448914X
9.      Widyarini N. Kunci pengembangan diri [internet]. Jakarta: PT Elex Media Komputindo; 2009.h.3-4.[Diakses 3 November 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?id=DPk9c6_KedAC&hl=id
10.  Soehono A. Hidup yang berkenan [internet]. Cetakan ke-4. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia; 2002.h.8. [Diakses 3 November 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?id=qpvnqmjbkUYC&hl=id
11.  Surbakti EB. Gangguan kebahagiaan anda dan solusinya [internet]. Jakarta: PT Elex Media Komputindo; 2010.h.330. [Diakses 3 November 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?id=rh003kSCMYcC&hl=id
12.  Firmasnzah. Marketing politik [internet]. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia; 2008.h.18-9. [Diakses 3 November 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?id=LAn8R3yXjlIC&dq=Marketing+politik&hl=id&source=gbs_navlinks_s
13.  Prasetya JT. Ilmu budaya dasar [internet]. Jakarta: PT Rineka Cipta; 2004.h.177. [Diakses 3 November 2012].
Diakses dari : books.google.co.id/books?id=VX1NAAAACAAJ&dq=Ilmu+budaya+dasar+prasetya&hl=id&sa=X&ei=eImUUKecNIPprQfdq4DgAw&ved=0CCsQ6AEwAA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar